JENITRI JAWA / JAVANESE RUDRAKSHA
Tentang Jenitri / Rudraksha
Jenitri ? Apa itu Jenitri ? Kok terdengar asing bagi saya?
![]() |
| Biji Jenitri siap panen |
![]() ![]() |
| Biji Jenitri yang sudah dikupas dan dibersihkan |
Biji jenitri banyak digunakan sebagai tasbih, namun tidak banyak yang tahu jika ternyata jenitri bermanfaat juga bagi kesehatan. Sebab itulah jenitri memiliki pangsa pasar yang cukup menjanjikan di bidang ekspor bijinya.
Tahukah Anda, indonesia merupakan pengekspor terbesar di dunia biji jenitri sebanyak 70 %, disusul nepal sekitar 20 %
dan sisanya dari negara lain.
India sendiri sebenarnya adalah negara yang paling banyak membutuhkan jenitri, namun hanya mampu memproduksi sekitar 5% saja. Kebutuhan jenitri di India & Nepal,tentunya tidak terlepas dari keyakinan bahwa Jenitri / Rudraksha merupakan air mata dewa Siwa, dewa yang diagungkan oleh umat Hindu, bahwa jenitri memiliki khasiat menjaga kesehatan dan ini juga telah dibuktikan dalam penelitian terhadap kandungan dari biji jenitri itu sendiri.
Tahukah Anda, indonesia merupakan pengekspor terbesar di dunia biji jenitri sebanyak 70 %, disusul nepal sekitar 20 %
dan sisanya dari negara lain.
India sendiri sebenarnya adalah negara yang paling banyak membutuhkan jenitri, namun hanya mampu memproduksi sekitar 5% saja. Kebutuhan jenitri di India & Nepal,tentunya tidak terlepas dari keyakinan bahwa Jenitri / Rudraksha merupakan air mata dewa Siwa, dewa yang diagungkan oleh umat Hindu, bahwa jenitri memiliki khasiat menjaga kesehatan dan ini juga telah dibuktikan dalam penelitian terhadap kandungan dari biji jenitri itu sendiri.
Seorang ilmuwan bernama Singh RK Departemen Farmakologi, Banaras Hindu University, India juga mengungkapkan bahwa air rendaman biji jenitri selama 30-45 menit menunjukkan sifat pelindung tubuh dari bakteri, kanker, pembengkakan, sakit kepala.
Riset dari Dwi Arum Setyoningtyas, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung mengungkapkan bahwa jenitri juga berperan sebagai penyerap polutan. Itu sebabnya pohon jenitri juga ditanam di di sepanjang jalan Bandung-Lembang untuk mengurangi polusi udara.
Komposisi
– 50,024% karbon,
– 17,798% hidrogen,
– 0,9461% nitrogen,
– 30,4531% oksigen.
– Biji jenitri juga mengandung senyawa lainnya seperti aluminum, kalsium, klorin, tembaga, kobalt, nikel, besi, magnesium, mangan, dan fosfor.
– Ekstrak yang terkandung dalam jenitri adalah Salmonella typhimurium, Morganella morganii, Plesiomonas shigelloides, Shigella flexnerii, dan Shigela sonnei.
– 17,798% hidrogen,
– 0,9461% nitrogen,
– 30,4531% oksigen.
– Biji jenitri juga mengandung senyawa lainnya seperti aluminum, kalsium, klorin, tembaga, kobalt, nikel, besi, magnesium, mangan, dan fosfor.
– Ekstrak yang terkandung dalam jenitri adalah Salmonella typhimurium, Morganella morganii, Plesiomonas shigelloides, Shigella flexnerii, dan Shigela sonnei.
Sejarah
Menurut cerita orang tua dijaman dahulu, tanaman jenitri pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh seseorang dari India dan menanamnya di Kauman, Kebumen, Jawa Tengah. Orang India yang kemudian berganti nama menjadi Mukti itu, kemudian mengajarkan cara menanam pohon jenitri hingga berbuah.
Itulah sebabnya jenitri Kebumen biasanya memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding daerah lainnya. Di India, jenitri lebih dikenal dengan nama Rudraksha yang artinya mata Dewa Siwa. Rudra adalah Dewa Siwa dan Raksha artinya mata. Orang Hindu meyakini bahwa Rudraksha adalah air mata Dewa Siwa yang jatuh ke bumi, dan tumbuh menjadi pohon rudraksa.
Biji-biji jenitri terkenal keras dan awet dan setiap biji memiliki jumlah garis (mukhis) yang berbeda. Jumlahnya bervariasi mulai dari 1 hingga 30 mukhis yang memiliki perbedaan arti.
Rata-rata jenitri memiliki mukhis di bawah 8, sedangkan yang paling banyak diburu orang adalah mukhis 9-30 karena langka. Makin banyak mukhis makin mahal karena konon energinya juga makin kuat baik untuk kesehatan ataupun hal yang sifatnya mistis seperti untuk keberuntungan, pencerahan spiritual dan lainnya.
Peneliti bernama Dr Suhas Roy dari Benaras Hindu University mengungkapkan, bahwa biji jenitri mengirimkan energi atau frekuensi ke jantung ketika digunakan sebagai kalung. Frekuensi biji jenitri juga menstimulasi otak, sehingga akan berpengaruh secara menyeluruh terhadap kesehatan tubuh karena otak adalah pengatur organ-organ tubuh.
Biji jenitri memiliki sifat kimia dan fisika semacam pergerakan listrik dan elektromagnetik, sehingga otak yang terstimulasi akan merasa tenang dan damai sehingga mudah berpikir secara lebih jernih.
Riset dari Institut Teknologi India juga mengungkapkan bahwa buah jenitri memiliki nilai spesifik gravitasi sebesar 1,2 dengan pH 4,48. Uniknya saat digunakan untuk meditasi atau berzikir, biji jenitri memiliki daya elektromagnetik sebesar 10.000 gauss pada keseimbangan Faraday, hasil konduksi elektron alkalin sehingga diketahui dapat mengontrol tekanan darah, mengurangi stres, serta mengatasi berbagai penyakit mental. Selain itu biji jenitri juga dapat membantu penyembuhan penyakit medis seperti epilepsi, asma, hipertensi, radang sendi, dan penyakit hati/sirosis.
Cara Memanfaatkan
Biji jenitri bermanfaat ketika dikalungkan ataupun direndam ke dalam air putih, lalu diamkan selama minimal 30 menit. Kemudian diminum atau didiamkan semalaman, dan pagi harinya diminum ketika perut kosong.
Kami memiliki benih jenitri & biji jenitri dengan kualitas ekspor hasil dari perkebunan kami sendiri.
Berlokasi di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan kondisi tanah dan cuaca yang sangat mendukung untuk penanaman jenitri sehingga menghasilkan jenitri kwalitas terbaik dengan harga yang kompetitif.
CP : Irza Kun Cahya
WA : 082140051416 / Chat Me by WA
Email: kunirza@gmail.com
Kami memiliki benih jenitri & biji jenitri dengan kualitas ekspor hasil dari perkebunan kami sendiri.
Berlokasi di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan kondisi tanah dan cuaca yang sangat mendukung untuk penanaman jenitri sehingga menghasilkan jenitri kwalitas terbaik dengan harga yang kompetitif.
CP : Irza Kun Cahya
WA : 082140051416 / Chat Me by WA
Email: kunirza@gmail.com







Komentar
Posting Komentar